Eradakwah.com — Jember Ahad malam (26/10) kembali digelar Angkringan Dakwah #12 dengan diskusi hangat seputar pesantren yang tengah diserbu isu negatif dari berbagai media. Bertema ” Pesantren Under Attack: Deradikalisasi or Deislamisasi? “, kali ini bersama narasumber Ustadz Rizqon Muharam sebagai Alumni Pesantren sekaligus Pendidik Generasi dan Bapak Henri Fatkurrochman, M. Hum sebagai Akademisi dan Pemerhati Isu Publik didampingi Mas Ardi sebagai host menjadikan angkringan semakin menarik.
Pesantren: Jantung Peradaban Islam di Nusantara
Acara dimulai dengan membahas peranan pesantren di Indonesia, “Secara historis, prototipe pesantren telah ada di masa Rasulullah Saw – Ahlu Suffah pen-, mereka menetap dan belajar langsung pada Rasulullah Saw. Diantara yang terkenal ada Abu Hurairah RA sebagai periwayat hadist terbanyak, kemudian dilanjutkan oleh Kekhilafahan Islamiyah hingga sampai di Nusantara.” Ujar Rizqon yang akrab disapa Abu Ziyad.
Pesantren selama ini memiliki track record sebagai penggerak perlawanan penjajahan, yang justru berbanding terbalik dengan Neo Feodalisme yang melanggengkan penjajahan. Neo Feodalisme itu corak khas masyarakat yang tidak ada dalam Islam, bagaimana mungkin ada sedangkan perbudakan sudah dibuatkan mekanisme agar terhapus dengan adanya syari’at Islam?
Hal senada diungkapkan oleh Bapak Henri, bahwa Pesantren adalah tempat mencetak kader-kader ulama dan institusi yang membentuk pribadi yang mampu berjuang menegakkan kebenaran. Selain itu pesantren juga memiliki peranan sangat strategis terhadap perlawanan pada penjajah.
Deradikalisasi dan Stigmatisasi Pesantren
Terkait kasus tindakan asusila dan kriminalitas yang beredar di pesantren, kedua narasumber memberikan pendapat yang lugas.
“Isu-isu negatif yang menyerang pesantren, ulama, dan ajaran Islam termasuk Jihad dan Khilafah adalah isu by design dari musuh-musuh Islam. Stigma negatif terhadap Islam dan khilafah juga bagian dari upaya mereka yang bertujuan agar kaum Muslimin takut dan Apriori terhadap ajaran agamanya sendiri.” Ujar Henri.
Sementara itu, Abu Ziyad berpendapat bahwa harus dibedakan kasus yang terjadi di pesantren dengan ajaran pesantren yang merupakan implementasi Islam. Oknum-oknum yang bertindak asusila maupun kriminal, justru bertolak belakang dengan ajaran Islam.
“Umat Islam harus cerdas, perbedaan pesantren di masa lampau dengan yang terjadi ini hari tidak lain adalah imbas tidak langsung dari penerapan ideologi kapitalisme. Termasuk kasus-kasus yang dilakukan oknum-oknum itu berarti kerusakan sudah saking meluasnya hingga pesantren yang betul-betul terjaga sampai terdampak, berarti telah timbul masalah yang sangat serius kan?.” Tanyanya retoris.
Bapak Henri menambahkan, agenda kafir penjajah hari ini dikemas dengan selubung _apik_ padahal busuk. Ide-ide kufur semisal sekulerisme, pluralisme, demokrasi, dan lainnya mereka jajakan, di sisi lain mereka bahkan membuat kurikulum yang berisi stigma negatif tentang jihad, syari’ah, maupun khilafah.
“Proyek (deradikalisasi) ini mereka lakukan secara terus-menerus termasuk merekrut sebagian kaum Muslimin untuk menjadi agen mereka. Tak bisa disangkal, proyek deradikalisasi yang berjalan selama ini hakikatnya adalah proyek Deislamisasi yang dilakukan oleh Kafir penjajah beserta agen-agen mereka.” Pungkasnya.***
angkringan dakwah #12

